Total Tayangan Halaman

Kamis, 02 Februari 2012

Who run the world? Girls.


Sesuatu yang bakal gue tulis disini ga bermaksud untuk mendoktrin siapapun, bukan juga bertujuan untuk merendahkan salah satu jenis kelamin. Gue cuma mau mengeluarkan pendapat dan apa yang menurut gue benar, well, Indonesia negara demokratis ;) yang berarti gue bebas menulis apapun selama ga bertentangan dengan hukum. Oke, pembicaraan ini mulai terlalu jauh -___- So here it goes!

Pertama, gue akan membuat suatu pengakuan yang fantastis.

Gue seorang feminis.

Kalau di antara pembaca ada yang bertanya-tanya apa itu feminis, gue ga akan menyalahkan. Mungkin istilah feminis belum terlalu populer di Indonesia. Padahal, feminis udah mendunia banget. Sampe-sampe di mata kuliah Sosiologi gue kemaren (thank God) gue belajar tentang feminis. And that was so much fun! Idk if it was just me, tapi gue bener-bener excited buat belajar bab tentang itu. Entah kenapa, gue merasa tidak sendiri :')


Sebelumnya, gue kasih tau dulu deh feminis itu apa. Kenapa gue mengaku kalo gue itu feminis? Karena, feminis itu berarti orang-orang yang peduli dan memperjuangkan kesetaraan wanita. Keren banget kan? Dan jangan lupa, feminis itu ga harus cewek loh. Karena di definisinya sendiri ga ditentukan bahwa yang memperjuangkan itu harus perempuan. Jadiiiii, it'll be soooooooo great kalo ada cowok yang ikut menjadi feminis. Gue kasih standing applause!

Gue gatau sejak kapan gue mulai berpikiran selayaknya feminis, yang jelas, tadinya gue bingung, apa nama dari pemikiran gue ini. Sampe satu saat gue tahu kata feminis, dan itu rasanya seneng banget! Seperti diakui keberadaannya :)
Dari kecil gue ga suka perbedaan tugas antara cewek dan cowok. Meskipun orangtua gue ga pernah maksa gue untuk ngerjain pekerjaan rumah, tapi gue liat kenyataan di luar. Gue ga suka anak cewek harus belajar ngerjain pekerjaan rumah tangga sedangkan anak cowok dibiarin main. Ga adil. Bayangin aja, sedari kecil lo udah dipaksa buat belajar jadi......sorry to say....pembantu?! Iya, secara ga sadar perempuan dipaksa buat jadi pelayan. Dengan alasan ini tugas perempuan, perempuan harus bersih, perempuan itu lembut, dan bla bla bla yang menurut gue non sense, intinya lo diajarin buat jadi pelayan dalam rumah tangga lo sendiri suatu saat nanti.

Tapi maaf, gue ga bilang jadi ibu rumah tangga itu ga baik. Gue akuin banget kalo ibu rumah tangga itu perannya besar buat keluarganya, SELAMA PEREMPUAN SENANG melakukan itu.Yang ga baik adalah, ketika lo jadi ibu rumah tangga karena budaya memaksa lo seperti itu, atau karena pasrah sama keadaan, atau karena suami lo mengharuskan lo ada di rumah, atau karena alasan-alasan lain yang timbul sebagai efek patriarki.

Bayangin aja ketika lo punya mimpi yang besar buat hidup lo, dan harus lo tinggalkan karena mendekam di rumah, ngurus rumah tangga. How sad :'(
                           
                                   

Walaupun menurut gue ini sesuatu yang buruk, tapi engga begitu dengan temen-temen gue yang lain. Buat mereka, melakukan pekerjaan rumah itu wajar bagi perempuan, dan mereka cenderung ga mendukung pemikiran gue, hahahaha. Gapapa sih, yang namanya pemahaman ga bisa dipaksain, dan gue ga bilang bahwa mereka bakal menderita di masa depan. Sekali lagi, karena mereka ga terpaksa.
Sebenernya feminis bukan cuma soal ngurus pekerjaan rumah tangga. Tapi juga pendidikan, pekerjaan, jabatan, kesempatan, dimana perempuan cenderung dirugikan karena dianggap (walaupun secara tersembunyi) kurang mampu. Tapi apa bener perempuan kurang mampu? Jelas, jawabannya engga. Perempuan sama mampunya dengan laki-laki dalam berbagai hal. Bedanya, jarang ada perempuan yang diberi kesempatan untuk memimpin.

Contohnya aja ya, banyak ketua-ketua laki-laki yang gue tahu kemampuannya biasa aja. Dibilang berwibawa juga engga, apalagi bijaksana. Banyak perempuan yang lebih mampu, tapi entah kenapa dipandang sebelah mata. Kalau seseorang banyak mendapat suara cuma karena dia laki-laki, mau jadi apa dunia?!
Gue pernah bicara sama seorang teman, mahasiswa ilmu politik yang satu kampus sama gue. Pemikirannya gue banget dan kita terlibat suatu obrolan yang asik sampe kemudian dia ceritain tentang temen-temen di kelasnya.
Jadi, waktu itu dia lagi belajar mata kuliah sosiologi dan lagi bahas topik gender. Singkat cerita, si dosen nanya pendapat mahasiswanya tentang pantas atau tidak perempuan menjadi seorang pemimpin. Dan kebanyakan bilang engga, dengan seribu alasan yang mereka sendiri yang tau. Yang bikin kaget adalah, kebanyakan yang bilang ga layak itu...........PEREMPUAN! Disitu gue bener-bener ga habis pikir. Gue marah. Segitu kuatnyakah patriarki menodai pikiran perempuan? Bahkan perempuan yang mempelajari ilmu politik, yang seharusnya mau jadi pemimpin, anggapannya kaya gitu. Ga ngerti lagi deh gue -__-

Kesannya gue marah-marah mulu, protes mulu sama keadaan. Tapi kalo kata Gadis Arivia di salah satu buku feminisnya, siapa yang ga marah dan ga protes kalo hak-haknya diambil? Semuanya wajar. Dan pemikiran feminis yang gue anut ga menginginkan adanya penundukan laki-laki terhadap perempuan, sebagaimana juga gue ga menginginkan adanya penundukan perempuan terhadap laki-laki. Gue mau semuanya sama di antara laki-laki dan perempuan, dinilai pure berdasarkan kemampuan. Kalo keadilan itu terwujud, siapa lagi sih yang mau protes? Jadi gue harap, ga ada lagi yang menganggap feminis itu negatif, karena feminis hanya ingin menuntut keadilan dan kesetaraan buat perempuan. That's all the business.

Kalo ngomongin feminis emang ga ada abisnya, karena emang masalah gender di Indonesia juga banyak banget. Salah satu yang terbesar adalah patriarki, sumber dari segala masalah ini. Gue harap masyarakat yang mengaku modern di dunia yang juga sudah modern, bisa meninggalkan pikiran konvensional yang udah ga sesuai soal gender.
Sekali lagi, ini pemikiran gue loh. Kalo ga setuju gapapa, tapi lebih disarankan sih setuju :p

                                  

watch out boys. girls are running the world now!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar